DIAM: TANDA KETIDAKPEDULIAN!
Yesaya 42:14-21
Diam itu emas? Broery Marantika pernah melantunkan syair
tersebut dalam lagunya. Namun, diam tidak selalu bernilai, apalagi
dalam situasi ketidakadilan. Berdiam diri dalam situasi sosial yang tidak baik-baik saja
adalah tanda ketidakpedulian. Silent
majority justru akan membuat ketidakbenaran dan ketidakadilan semakin menjadi-jadi.
Dalam sejarah Israel, silent majority dipandang sebagai kejahatan kolektif. Yesaya dengan tajam mengkritik sikap demikian. Israel disebut buta dan tuli. Secara jasmaniah, mereka memang memiliki mata dan telinga. Namun, sayangnya, seperti kata Yesaya, banyak yang mereka lihat, tetapi tidak mereka perhatikan. Mereka memasang telinga, tetapi tidak mendengarkan. Hal inilah yang membuat mereka berdiam diri dalam situasi ketidakadilan. Masing-masing orang hanya berpikir untuk kepentingannya sendiri. Padahal, Tuhan tidak menyukai ritual tanpa keadilan sosial. Tuhan menyukai ibadah sejati, yakni kepedulian dan keadilan. Gereja dan orang percaya tidak boleh terlibat dalam kejahatan kolektif yang mendiamkan ketidakbenaran dan ketidakadilan. Diam dalam situasi demikian berarti hidup dalam ketidakpedulian. Allah tidak menyukai sikap seperti itu. Bersikap peduli terhadap sesama demi keadilan adalah tanggung jawab iman kepada Allah yang berkenan pada kebenaran dan keadilan. (Wasiat)
REFLEKSI:
Orang beriman dikenal karena kepeduliannya, sedangkan pecundang memilih diam dalam situasi ketidakadilan.